Kobaran Maut Wang Fuk Court Tewaskan 94 Orang dan 2 PMI

Kobaran maut Wang Fuk Court mengguncang Hong Kong pada Rabu (26/11/2025) sore waktu setempat. Api dahsyat melahap tujuh dari delapan gedung apartemen di kompleks hunian tersebut, merenggut nyawa sedikitnya 94 orang hingga Jumat (28/11/2025). Dua korban meninggal merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Tragedi ini langsung menyedot perhatian dunia internasional karena menjadi kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak tahun 1948. Presiden China Xi Jinping bahkan menyampaikan belasungkawa resmi kepada seluruh korban dan keluarga yang berduka.

Api Pertama Muncul dari Gedung Renovasi

Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong menerima laporan pertama pada pukul 14.51 waktu setempat. Sumber api berasal dari Wang Cheong House, salah satu menara setinggi 32 lantai yang tengah menjalani renovasi sejak Juli 2024.

Wakil Direktur Operasional Pemadam Kebakaran Derek Armstrong Chan menjelaskan bahwa tim pertama yang tiba di lokasi sudah menemukan perancah bambu dan jaring pelindung dalam kondisi terbakar hebat. Asap tebal langsung membubung tinggi ke angkasa, terlihat dari berbagai penjuru distrik Tai Po.

Dalam waktu singkat, api menjalar ke gedung-gedung di sekitarnya dengan kecepatan yang oleh otoritas di sebut “tidak biasa”. Sekretaris Keamanan Hong Kong Chris Tang menegaskan bahwa pola penyebaran api ini menjadi fokus utama penyelidikan.

Eskalasi Cepat ke Level Tertinggi

Petugas langsung menaikkan status kebakaran ke Level 3 hanya dalam waktu 10 menit setelah laporan pertama. Mereka awalnya mengerahkan dua selang dan dua tim penembus asap untuk memadamkan kobaran.

Namun demikian, kondisi terus memburuk dengan sangat cepat. Sekitar 40 menit kemudian, status naik menjadi Level 4. Kemudian pada pukul 18.22 waktu setempat, otoritas menetapkan status Level 5—tingkat darurat tertinggi dalam sistem klasifikasi Hong Kong.

Pada Kamis pagi pukul 06.22, status kebakaran kembali di naikkan ke Level 5 setelah sempat turun. Media lokal melaporkan beberapa ledakan terdengar dari dalam gedung sepanjang malam.

Korban Melonjak Setiap Jam

Jumlah korban tewas terus bertambah seiring berjalannya waktu. Pada tahap awal, otoritas mencatat 13 korban meninggal. Angka ini melonjak menjadi 44 orang pada Kamis pagi, kemudian 55 orang pada Kamis sore.

Hingga Jumat pagi, Departemen Pemadam Kebakaran mengonfirmasi 94 orang meninggal dunia. Selain itu, 76 orang mengalami luka-luka termasuk 11 petugas pemadam kebakaran. Ratusan lainnya masih di nyatakan hilang.

Di antara korban tewas, seorang petugas pemadam kebakaran bernama Ho Wai-ho berusia 37 tahun gugur saat bertugas. Rekan-rekannya menemukan jenazahnya dengan luka bakar pada wajah sekitar 30 menit setelah kehilangan kontak di dalam gedung.

Dua PMI Indonesia Meninggal Dunia

Kabar duka datang dari komunitas Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mengonfirmasi dua PMI meninggal dunia dalam tragedi ini.

PMI bernama Erawati meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara itu, Novita juga meninggal dunia dan jenazahnya telah di bawa ke Alice Ho Miu Ling Nethersole Hospital untuk proses identifikasi dan autopsi.

Selain itu, empat PMI lainnya berhasil selamat meskipun mengalami berbagai kondisi. Kholifah Saefudin asal Brebes, Jawa Tengah, menjalani perawatan di North District Hospital. Erna Mayang Sari dievakuasi ke rumah kerabat majikan di Shatin.

Dua PMI lainnya yakni Arik Sugiarti dan Puspita saat ini berada di shelter darurat yang di sediakan Pemerintah Hong Kong. Keduanya dalam kondisi selamat dan mendapat pendampingan dari KJRI Hong Kong.

KJRI Bergerak Cepat Lindungi WNI

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong langsung berkoordinasi dengan Hong Kong Police Force (HKPF) sejak insiden terjadi. Tim KJRI turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi dan pendataan korban WNI.

Plt Direktur Jenderal Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Heni Hamidah menegaskan bahwa seluruh korban WNI merupakan PMI sektor domestik. KJRI telah menghubungi keluarga korban di Indonesia untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan kejelasan informasi.

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menyatakan duka cita mendalam atas musibah tersebut. Pemerintah Indonesia berkomitmen memberikan pelindungan maksimal kepada seluruh WNI yang terdampak.

Posko Darurat di Gedung KJRI

KJRI Hong Kong membuka posko kedaruratan dan menyediakan dukungan logistik di gedung kantor KJRI. Alamat lengkapnya berada di 127-129 Leighton Road, 6-8 Keswick Street, Causeway Bay.

Pada Jumat pagi, Kemlu RI mengonfirmasi bahwa salah satu dari dua WNI yang terluka sudah keluar dari rumah sakit. WNI tersebut kini tinggal di kediaman kerabat pemberi kerja. Sementara itu, satu korban lainnya sudah dalam kondisi stabil.

Satgas Pelindungan WNI KJRI terus mengunjungi warga Indonesia di berbagai shelter dekat lokasi kejadian. Tim membawa bantuan makanan, minuman, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.

Perancah Bambu Jadi Jembatan Api

Para ahli menduga struktur perancah bambu menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api. Profesor Jiang Liming dari Hong Kong Polytechnic University menjelaskan bahwa rumpun perancah bambu yang saling terhubung antarblok bekerja layaknya “jembatan api”.

Hong Kong merupakan salah satu wilayah terakhir di dunia yang masih menggunakan bambu secara luas untuk konstruksi. Material ini di pilih karena murah, melimpah, ringan, dan fleksibel. Bahkan banyak pihak menganggap perancah bambu sebagai bagian ikonik dari lanskap perkotaan Hong Kong.

Rekaman video menunjukkan api menyebar dengan sangat cepat melalui struktur bambu tersebut. Jaring konstruksi berwarna hijau yang membungkus bangunan turut mempercepat pergerakan kobaran dari satu gedung ke gedung lainnya.

Styrofoam Ditemukan di Jendela

Penyelidikan awal mengungkap temuan mengejutkan. Polisi menemukan papan styrofoam atau polistirena di pasang di luar jendela lobi lift di setiap lantai gedung. Material ini sangat mudah terbakar dan dapat meleleh pada suhu 210 derajat Celsius.

Direktur Dinas Pemadam Kebakaran Andy Yeung menegaskan bahwa keberadaan papan styrofoam tersebut sangat tidak biasa. Akibatnya, pihaknya langsung melaporkan temuan ini kepada polisi untuk penyelidikan lebih lanjut.

Senior Superintendent Kepolisian Hong Kong Eileen Chung menambahkan bahwa jaring pelindung, kanvas tahan air, dan kain plastik yang membungkus bangunan kemungkinan juga tidak memenuhi standar tahan api yang di tetapkan pemerintah.

Tiga Eksekutif Konstruksi Ditangkap

Polisi Hong Kong bergerak cepat dengan menangkap tiga orang terkait kebakaran maut tersebut. Ketiga tersangka merupakan eksekutif dari Prestige Construction and Engineering Company Limited, perusahaan yang bertanggung jawab atas renovasi bangunan.

Senior Superintendent Eileen Chung menjelaskan bahwa ketiga tersangka terdiri dari dua direktur perusahaan dan seorang konsultan proyek. Mereka berusia antara 52 hingga 68 tahun dan di tangkap atas dugaan pembunuhan tidak berencana (manslaughter).

Kepolisian memiliki alasan kuat untuk meyakini bahwa pihak yang bertanggung jawab di perusahaan tersebut melakukan kelalaian berat. Material tidak aman yang di tinggalkan selama pekerjaan pemeliharaan menyebabkan api menyebar cepat di luar kendali.

Link Berita Lainnya : Meriah4D

Penggeledahan Kantor Kontraktor

Pada Kamis pagi, polisi menggeledah kantor perusahaan konstruksi di San Po Kong. Tim penyidik menyita berbagai dokumen terkait proyek renovasi di Wang Fuk Court beserta beberapa kompleks perumahan lain di Hong Kong.

Investigasi mengungkap bahwa renovasi telah berlangsung sejak Juli 2024. Proposal proyek mencapai nilai 330 juta dolar Hong Kong atau setara sekitar Rp706 miliar.

Badan antikorupsi Hong Kong juga meluncurkan penyelidikan terpisah. Mereka menyelidiki dugaan korupsi dalam proses renovasi kompleks perumahan bersubsidi tersebut.

Warga Tidak Dengar Alarm

Sejumlah penghuni Wang Fuk Court mengaku tidak mendengar alarm kebakaran saat kejadian. Seorang warga bermarga Suen menceritakan bahwa ia harus berkeliling dari pintu ke pintu untuk memberitahu tetangga tentang bahaya yang mengancam.

Warga berusia 65 tahun bermarga Yuen yang telah tinggal di kompleks tersebut selama lebih dari empat dekade mengungkapkan kekhawatirannya. Banyak tetangganya merupakan lansia yang mungkin tidak bisa bergerak cepat.

Jendela-jendela apartemen di tutup karena sedang dalam pemeliharaan. Akibatnya, beberapa penghuni tidak mengetahui ada kebakaran dan baru mengungsi setelah di hubungi tetangga melalui telepon.

Operasi Pemadaman Lebih dari 24 Jam

Petugas pemadam kebakaran bekerja tanpa henti sepanjang malam untuk mengendalikan api. Namun demikian, upaya mereka terhambat suhu ekstrem dan asap pekat yang menyelimuti blok-blok residensial.

Derek Armstrong Chan mengakui bahwa panas di lokasi sangat tinggi. Beberapa lantai tidak dapat di jangkau petugas untuk menolong orang-orang yang meminta bantuan. Meskipun demikian, tim tetap berusaha keras melakukan operasi penyelamatan.

Pada Jumat dini hari, petugas sebagian besar sudah berhasil mengendalikan api yang berkobar selama lebih dari 24 jam. Proses pemadaman berlanjut dengan pendinginan di beberapa titik yang masih membara.

Ratusan Orang Masih Hilang

Pemimpin Hong Kong John Lee mengonfirmasi bahwa 279 orang tercatat hilang hingga Kamis malam. Angka ini belum di perbarui selama 24 jam terakhir karena proses pendataan masih berlangsung.

Seorang polisi di tempat penampungan sementara mengatakan bahwa jumlah pasti warga yang belum di temukan masih belum jelas. Penduduk terus berdatangan hingga larut malam untuk melaporkan anggota keluarga yang hilang.

Petugas terus menyisir setiap unit apartemen di tujuh gedung yang ludes terbakar. Beberapa korban selamat di temukan berlindung di unit-unit apartemen masing-masing.

Kisah Pilu Keluarga Korban

Di tengah duka mendalam, seorang perempuan berusia 52 tahun terlihat mencari putrinya di luar salah satu tempat penampungan. Ia menggenggam erat foto kelulusan sang anak sambil menangis.

Perempuan tersebut mengungkapkan bahwa putrinya dan ayahnya masih belum keluar dari gedung. Ia mengkritik lambatnya respons pemadaman dengan mengatakan bahwa air tidak cukup untuk menyelamatkan gedung mereka.

Sekitar 900 warga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara yang di sediakan pemerintah. Pada malam kedua setelah kebakaran, puluhan warga memilih tidur di pusat perbelanjaan terdekat untuk memberi ruang bagi yang lebih membutuhkan.

Relawan Berdatangan Membawa Bantuan

Solidaritas masyarakat Hong Kong terlihat jelas dalam situasi darurat ini. Relawan terus berdatangan membawa makanan ringan, selimut, kasur lipat, dan perlengkapan kebersihan.

Pemandangan mengharukan terlihat ketika warga dari berbagai usia—mulai dari lansia hingga anak sekolah—tidur beralaskan kasur lipat di area penampungan. Beberapa keluarga bernaung di tenda-tenda kecil yang di dirikan secara darurat.

Banyak warga mengaku keluar dari apartemen hanya dengan pakaian yang di kenakan saat kejadian. Mereka terpaksa meninggalkan seluruh harta benda dan bahkan hewan peliharaan yang tidak sempat di selamatkan.

Pemerintah Siapkan Dana Bantuan

Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee mengumumkan pembentukan dana bantuan sebesar 300 juta dolar Hong Kong atau sekitar US$39 juta untuk warga terdampak. Dana ini akan di gunakan untuk membantu korban memulihkan kehidupan mereka.

John Lee menyebut kebakaran ini sebagai “bencana besar” dan menegaskan bahwa seluruh departemen pemerintah di kerahkan untuk membantu warga yang terdampak. Pemerintah Hong Kong juga menetapkan hari berkabung nasional.

Seluruh institusi pemerintahan di liburkan dan berbagai perayaan dibatalkan sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. Bendera setengah tiang berkibar di gedung-gedung pemerintahan.

Xi Jinping Sampaikan Belasungkawa

Presiden China Xi Jinping turut menyampaikan belasungkawa resmi kepada para korban. CCTV melaporkan bahwa Xi menyampaikan simpati kepada keluarga korban dan mereka yang terdampak bencana.

Xi juga memerintahkan pejabat pusat dan Kantor Penghubung China di Hong Kong untuk memberikan dukungan penuh bagi operasi penyelamatan. Bantuan maksimal harus diberikan kepada keluarga korban.

Paus Leo melalui telegram kepada Uskup Hong Kong Kardinal Stephen Chow Sau-yan juga menyampaikan “solidaritas spiritual” bagi para korban. Dukungan moral terus mengalir dari berbagai penjuru dunia.

Kompleks Padat Penduduk

Wang Fuk Court merupakan kompleks perumahan vertikal terbesar di distrik Tai Po. Kompleks ini terdiri dari delapan menara setinggi 31 lantai yang menampung sekitar 2.000 unit apartemen.

Berdasarkan sensus Hong Kong 2021, kawasan ini dihuni lebih dari 4.600 penduduk. Mayoritas penghuni merupakan keluarga kelas menengah yang memanfaatkan skema kepemilikan rumah bersubsidi pemerintah.

Bangunan yang telah berdiri sejak 1983 ini menjadi penyangga penting bagi warga di tengah krisis perumahan Hong Kong yang berkepanjangan. Tragedi ini memperparah kondisi hunian yang sudah sangat terbatas.

Peringatan untuk Seluruh WNI

KJRI Hong Kong mengeluarkan imbauan penting bagi seluruh WNI di Hong Kong. Warga diminta tetap waspada terhadap segala upaya penipuan yang memanfaatkan tragedi kebakaran sebagai modus.

KJRI meminta WNI menghindari pengiriman uang kepada individu atau kelompok dengan identitas dan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Penipuan berkedok bantuan korban kebakaran mulai bermunculan.

Bagi WNI/PMI yang terdampak kebakaran, KJRI meminta agar segera menghubungi hotline di nomor +852 5242 2240 atau panic button di nomor +852 6773 0466. Pendampingan penuh akan diberikan oleh tim KJRI.

Proses Repatriasi Jenazah

KJRI Hong Kong terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan agen ketenagakerjaan terkait pengurusan repatriasi jenazah dua PMI yang meninggal. Proses ini meliputi identifikasi resmi, pengurusan dokumen, dan pemulangan ke Indonesia.

KP2MI menegaskan komitmennya untuk memastikan tidak ada satu pun PMI yang terabaikan. Tim bekerja selama 24 jam untuk memastikan seluruh proses pelindungan berjalan cepat dan tepat.

Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Koordinasi dengan Pemerintah Hong Kong terus dilakukan untuk memastikan penanganan terbaik bagi seluruh WNI terdampak.

Investigasi Masih Berlanjut

Pihak berwenang Hong Kong masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran. Fokus utama investigasi meliputi kecepatan penyebaran api yang tidak biasa dan penggunaan material tidak aman selama renovasi.

Otoritas perumahan kota akan menyelidiki apakah lapisan pelindung yang menutupi bangunan selama renovasi memenuhi standar tahan api. John Lee menegaskan bahwa pihak terkait akan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku.

Tragedi Wang Fuk Court menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan bangunan, terutama di kawasan padat penduduk. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh proyek renovasi serupa di Hong Kong akan segera dilakukan.

Pelajaran Berharga bagi Semua

Kebakaran dahsyat ini menyisakan pelajaran penting tentang keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Penggunaan material konstruksi harus benar-benar memenuhi standar keamanan tanpa kompromi.

Bagi para pekerja migran yang tinggal di gedung-gedung bertingkat tinggi di luar negeri, kewaspadaan terhadap potensi bahaya kebakaran sangat diperlukan. Mengetahui jalur evakuasi dan lokasi alat pemadam dapat menyelamatkan nyawa.

Pemerintah Indonesia berkomitmen terus memberikan pelindungan maksimal kepada seluruh WNI di manapun berada. Tragedi ini tidak boleh terulang di masa mendatang.